SAAT SANG “PRINCESS” MULAI BERSOSIALISASI

IMG02770-20140817-0945

Adiva Mallory & Baim nonton lomba 17an

Sebagai ibu yang bekerja, aku berusaha selalu menyempatkan waktu buat putri kecilku, Adiva, terutama saat berada di rumah. Sejak 0 bulan, anakku sudah mengenal sepupu2nya yang lebih besar, jadi bermain bersama teman bukanlah barang baru buatnya. Namun, bermain bersama teman yang bukan anggota keluarga, adalah hal baru buat princess kecilku.

Momen perayaan 17 Agustus, merupakan pengalamannya bertemu dengan orang banyak. Diva yang saat itu masih 16 bulan namun sudah lancar berjalan, tertarik pada seorang anak laki-laki berusia 4 tahun bernama Baim. Dimulai dari mengamati, akhirnya Diva mendekati Baim, mencolek hingga memegang topinya. Namun, Baim cuek, hanya menengok sebentar, kemudian asyik lagi menonton jalannya lomba 17an. Saking penasarannya, anakku jongkok disamping Baim yang tidak juga mau memperhatikannya. Momen itu adalah momen yang lucu sekaligus mengagumkan buatku.

picmix-15112014-612

Adiva mulai bermain bersama teman di usia 20 bulan

Di usianya ke-20 bulan, Diva sdh bisa mengajak temannya bermain. Namanya Dea, dia anak tetanggaku. Umurnya 3 tahunan. Yang membuatku kagum dan bangga adalah, Diva tidak berebut mainan dengan Dea. Diva justru asyik membantu Dea yang sedang asyik menyusun balok mainan milik Diva. Itu adalah sekelumit kisah anakku yang mulai bersosialisasi dengan orang lain. Apakah anak anda juga seperti Diva? Berikut artikel yang saya rangkum dari beberapa sumber.

Mulai usia berapa sih sebenarnya anak mulai bersosialisasi?

Sampai usia sekitar 8 bulanan si kecil sibuk untuk terus melihat dunianya, namun responnya hanya sekedar melalui pandangannya yang lucu, senyumnya yang imut, keinginannya untuk meraih barang-barang di sekitarnya, serta ocehan-ocehan lucunya. Di usia ini juga, si kecil bisa bermain bersama-sama dengan bayi yang lain, namun terbatas dengan kemampuan di atas. Si kecil belum bisa berinteraksi, belum bisa memahami sampai tahapan berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun, biasanya di akhir usianya satu tahun si kecil mengalami sifat anti sosial. Tidak mau ditinggal sendiri, dan mengekspresikan dengan tangisannya yang keras, namun kembali tenang jika ibu sudah ada di dekatnya.

Lalu pada Tahun kedua si kecil. Seiring dengan kemampuan berdiri dan berjalannya, si kecil akan semakin aktif dan tertarik dengan segala sesuatu di sekitarnya. Disertai dengan kemampuannya belajar berbicara, si kecil mulai suka bersosialisasi. Bermain dengan teman-teman sebayanya, atau mengikuti gerombolan anak-anak lainnya di sekitar lingkungannya. Namun, diusia ini juga keegoisan si kecil mulai muncul, si kecil mulai sadar tentang barang yang dimilikinya. Si kecilpun tak ingin berbagi dan ingin semua dimilikinya. Ini merupakan tahapan normal, arahkan saja perkembangannya dengan baik, tunjukkan kehidupan berbagi dan coba terus mengarahkan ke arah positif.

Anak usia 3-4 tahun masih tetap suka bermain sendiri. Tetapi dia memilih lokasi yg masih berdekatan dengan anak lain, dalam tahap ini mereka akan semakin mendekati bentuk permainanyang memerlukan kerjasama, bahkan meskipun mereka memiliki sifat yg egosentris tetapi di masa ini seorang anak sudah mulai menginginkan mainan milik temannya sehingga secara tidak langsung mereka saling mendekati dan ingin main bersama.

Pada periode ini dimana terjadi perubahan yang cepat untuk kebanyakan anak. Mereka sibuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru meraih tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Anak-anak dalam masa ini belajar untuk mengendalikan dan mengarahkan perasaannya. Secara social, mereka sudah mampu untuk diajak bekerjasama dan menyesuaikan diri dengan orang dewasa, contohnya ketika mereka bermain bersama dalam kelompok mereka mampu memahami peraturan dengan lebih baik, bahkan terkadang menuntut teman lain untuk mematuhi peraturan tersebut.

Guru dan orang tua harusnya menyadari perasaan emosi mereka dan harus sensitif terhadap ungkapan anak-anak tersebut. Suatu hal yang sulit anak-anak ini adalah untuk menyesuaikan diri dengan langkah mereka sendiri. Contoh mereka akan berusaha keras untuk melakukan banyak hal sendirian, dan perkembangan anak juga bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya dan terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.

Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya. Selain itu Ada baiknya sejak dini orang tua mengagendakan kesempatan bagi si kecil bersosialisasi. Dengan demikian bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak sehingga membuatnya takut.

Biasanya untuk batita (0 – 3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usiabalita (3 – 5 tahun), tak ada salahnya Anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat Anda di rumah atau di rumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam play date. Bisa juga Anda jadwalkan membawa anak di hari tertentu ke playground atau bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak bersosialisasi semakin sering.

Umur Berapa Balita Mulai Senang Bergaul?

Menurut pakar perkembangan bayi dan balita Victoria J Youcha, balita mulai senang bersosialisasi dengan teman-teman balitanya ketika sudah mencapai usia 2 tahun.

Meski pada usia tersebut anak belum memahami dasar-dasar persahabatan dan kerjasama seperti mendengarkan, menanggapi, bergantian atau saling berbagi, tapi ia akan menikmati bermain berdampingan dengan anak lain, menonton serta meniru yang anak lain lakukan atau katakan.

Perilaku ini disebut dengan bermain asosiatif dan merupakan cara yang hebat bagi anak untuk belajar dari anak-anak lain. Umumnya anak akan belajar keterampilan sosial dari satu sama lain serta membangun kreativitasnya sendiri. Sedangkan konflik yang terjadi antar anak merupakan langkah pertama bagi anak dalam belajar untuk bekerjasama serta berbagi.

Lalu saat anak menginjak usia 3 tahun, ia mungkin sudah memiliki satu atau dua teman spesial seperti teman untuk saling berbagi dan bermain selama 1-2 jam tanpa saling berkelahi.

Menurut Victoria, ketika masih di bawah 12 bulan umumnya anak lebih asyik bermain sendiri dan tidak menghiraukan teman-teman disekelilingnya.

“Meski begitu pada usia sebelum 12 bulan bayi mulai terpesona dengan bayi lainnya, mereka akan mengeksplorasi satu sama lain seperti halnya saat mereka mengeksplorasi mainan,” ujar Victoria.

Eksplorasi yang dilakukan oleh para bayi ini bisa menghibur atau justru mengesalkan orangtuanya, karena cara eksplorasi ini cenderung disertai dengan tangisan air mata dan juga jeritan gembira anak-anak saat bermain.

Setelah itu ketika usianya masuk antara 1-2 tahun, balita akan terlibat sesuatu hal yang dikenal sebagai ‘bermain paralel’, yaitu cara bermain yang mana anak-anak duduk bermain berdampingan dengan anak lain tapi tidak benar-benar berinteraksi, selain untuk mengambil mainan.

4 Kiat Mengasah Sosialisasi Anak

Keterampilan bersosialisasi mesti diasah lewat contoh orang tua yang pandai gaul. Tipe seperti apa pun anak usia 3 – 5 tahun Anda, ada baiknya Anda memberi ‘modal’, khususnya bagi yang akan masuk TK. Apa saja itu?

1. Hangat dan penuh cinta.
Cara anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar sangat bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.

Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya.

2. Petunjuk praktis.
Sebagai pemula, anak-anak butuh  arahan Anda tentang cara memulai pertemanan. Beri petunjuk praktis tentang cara menyapa orang lain, memberi respon positif terhadap sapaan teman dan cara berinteraksi dalam kegiatan bermain bersama. Cara termudah, tentu saja, dengan memberi contoh.

Di usia berapa pun, ada baiknya Anda paparkan contoh tata krama dan perilaku yang mendukung kegiatan bersosialiasi dengan orang-orang di sekitarnya. Salah satu keterampilan sosial yang juga penting diajarkan adalah cara memecahkan masalah, misalnya dengan bernegosiasi, dan berkompromi.

3. Biasakan bergaul.
Ada baiknya sejak dini Anda mengagendakan kesempatan bagi si kecil bersosialisasi. Dengan demikian bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak sehingga membuatnya takut.

Biasanya untuk batita (0 – 3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usia balita (3 – 5 tahun), tak ada salahnya Anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat Anda di rumah atau di rumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam play date.

Bisa juga Anda jadwalkan membawa anak di hari tertentu ke playground atau bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak bersosialisasi semakin sering

4. Mengundang teman.
Maksimalkan interaksi positif anak dan teman-temannya saat bermain bersama di rumah, antara lain dengan menyediakan beragam material dan kegiatan. Apabila anak memiliki gagasan baru dan materialnya belum tersedia, Anda dapat membelinya terlebih dulu.

Ajak anak menyusun kegiatan yang dapat dilakukan bersama teman yang akan diundang. Buatlah daftar mainan dan material yang tersedia lalu susunlah kegiatan yang mungkin lakukan si balita bersama temannya

Sebagai langkah awal, rancanglah kegiatan bermain yang singkat saja. Meski pengalaman pertama bermain bersama teman di rumah menyenangkan, tetap saja balita punya ketahanan terbatas. Selain karena bosan, anak-anak biasanya juga tak akan tahan bermain lebih dari 1 jam nonstop. Ia butuh jeda untuk istirahat, makan, minum bahkan tidur di sore hari.

Bagaimana Balita Bersosialisasi Dengan Teman ?

Saat balita Anda mulai mengenal dunia luar, mungkin ia akan mulai menemukan asiknya bersosialisasi dengan teman sebayanya. Berbagai pengalaman baru akan ditemukan. Dalam adaptasinya, ia biasanya akan memilih teman-teman yang disukainya.

Setiap balita memiliki kemampuan yang berbeda dalam beradaptasi. Ada yang mudah, dan ada pula yang sulit. Menjadi tugas Anda sebagai orang tua adalah tetap mendukungnya untuk bisa beradaptasi dengan teman-teman barunya.

Saat usia si kecil baru mancapai satu atau dua tahun, biasanya si kecil masih nyaman dengan mainannya sendiri. Ia pun masih memilih untuk bermain dengan orang-orang dewasa yang biasa ada disekelilingnya, seperti orang tua, kakek, nenek, kakak, atau pengasuhnya.

Di usia tersebut, balita menganggap bermain dengan orang dewasa lebih menyenangkan karena mereka selalu menuruti apa yang diinginkannya. Tak heran saat balita bertemu dengan teman sebayanya biasanya akan sering bertengkar karena mereka masih sama-sama tidak mau mengalah.

Itulah kenapa balita sangat membutuhkan Anda saat ia mulai bersosialisasi dengan teman sebayanya. Anda bisa memulainya dengan memperkenalkan balita lain pada anak Anda. Ajarkan ia bagaimana menyapa teman sebayanya itu dan biarkan mereka bermain bersama.

Saat usianya mulai beranjak, balita Anda akan mulai mengamati anak-anak lainnya. Saat usianya dua atau tiga tahun, ia akan mencari sosok teman yang disukainya. Ia akan mulai mendekati teman yang disukainya tersebut. Namun pada usia ini balita masih cenderung takut dan malu.

Sebagai orang tua, Anda bisa lebih sering mengajak anak untuk bermain ke tempat-tempat yang banyak balita-balita seusianya. Biarkan ia mendekati balita lainnya. Pada awalnya, mungkin ia hanya akan menjadi penonton saja, tapi jika ia sudah terbiasa, ia pun akan mulai bermain dengan balita lainnya.

Semakin besar, balita Anda akan semakin percaya diri. Saat usianya tiga atau empat tahun, teman-temannya akan semakin banyak dan ia pun akan mulai terbiasa dengan balita-balita lain di sekitarnya. Biarkan balita Anda memiliki waktu bermain lebih banyak dengan teman-temannya.

Saat itu, balita Anda akan menyadari bermain dengan teman akan lebih menyenangkan dibanding bermain sendiri. Menginjak usia empat atau lima tahun, biasanya ia dan teman-temannya akan membentuk gank sendiri. Mereka pun mulai bisa berdebat pendapat yang satu dengan lainnya.

Bersosialisasi dengan teman akan menjadi saat-saat yang menyenangkan bagi balita Anda. Tetaplah dampingi balita Anda dan ajarkan hal-hal baru untuk memperkaya wawasannya dalam bersosialisasi. Sesekali ajaklah balita Anda ke tempat balita lainnya untuk memperluas lingkungannya.

Manfaat Semanis Madu untuk Anakku

madu1

Saya adalah ibu yang memiliki anak berumur 1 tahun 8 bulan. Agar anak saya bertumbuh dengan maksimal, tentu saja saya butuh manfaat madu.

Madu mengandung 2 gula utama yaitu fruktosa, glukosa,gula yang terdapat pada madu lebih cepat diserap oleh tubuh dan dialirkan ke darah hal ini memberikan dorongan energi yang cepat bagi tubuh. Madu juga mengandung protein, vitamin dan mineral, tapi tidak mengandung kolesterol. Vitamin dan mineral yang terdapat didalam madu tergantung pada sumber bunga madu.

Manfaat madu untuk kesehatan telah banyak di aplikasikan dalam medis selama bertahun-tahun, tetapi studi terbaru kini dapat membuktikan sifat menguntungkan dalam beberapa aplikasi, termasuk sebagai pengobatan antibakteri untuk luka bakar dan borok. Alasannya adalah karena madu memiliki sifat anti bakteri dan osmotik ; yaitu cenderung untuk menarik air. Molekul air sangat bereaksi dengan gula dalam madu, meninggalkan sedikit air yang tersedia untuk mikroorganisme. Dengan demikian, bakteri penyebab infeksi secara harfiah dehidrasi dan mati karena khasiat madu. Aktivitas enzim madu juga menghasilkan hidrogen peroksida, yang menghasilkan mempu mencegah radikal bebas dan sangat reaktif untuk membunuh bakteri.

Berikut ini 5 manfaat madu untuk anak :

1. Sumber Vitamin Yang Lengkap Bagi Anak

Madu mengandung seluruh vitamin yang dibutuhkan oleh anak, yaitu : A, B1, B2, B3, B5, B6, D, K, E, Uric Acid, dan asam nikotinat. Semua vitamin ini penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh anak, selain itu dapat diserap tubuh dengan mudah selama satu jam setelah mengkonsumsi madu. Hal ini berbeda dengan vitamin pada berbagai makanan lain yang lebih lambat proses penyerapannya dibandingkan penyerapan vitamin yang terdapat di dalam madu.

2. Dapat Menyembuhkan Batuk Anak

Anak-anak mudah terserang flu dan batuk, apalagi sekarang cuacanya cukup ekstrem, hal ini bisa menyebabkan flu dan batuk gampang menjangkiti anak-anak. Untuk menangkalnya, minumkan madu pada anak Anda secara rutin. Madu memiliki efek seperti obat dengan kandungan dekstrometorfan  yang berfungsi meredakan batuk pada malam hari sehingga tidur menjadi lebih lelap.

3. Baik untuk Pencernaan Anak

Anak-anak biasanya kurang peduli pada kebersihan makanan yang mereka konsumsi. Mereka juga sering tak acuh terhadap higienitas tangan mereka ketika akan memegang makanan. Maka sudah jamak ditemukan anak-anak yang mengalami masalah dengan pencernaannya. Hal ini bisa diatasi dengan madu. Menurut penelitian, beberapa jenis madu ternyata memiliki beberapa bakteri yang ramah. Seperti 6 jenis laktobasilus dan 4 spesies bifidobacteria. Bakteri-bakteri ramah ini akan membunuh bakteri jahat di dalam usus.

4. Memicu Pertumbuhan Otak Anak

Masa anak-anak adalah masa di mana otak sedang berkembang. Bantu perkembangan otak anak lebih optimal dengan madu. Berilah satu sendok makan madu asli sebelum tidur. Hal ini akan meningkatkan fungsi kinerja otak sebab fruktosa yang terkandung pada madu akan memberi energi cadangan pada hati dan bekerja pada otak semalaman pada saat anak Anda sedang tidur. Itulah mengapa madu dipercaya sebagai zat penambah energi para atlet zaman Yunani kuno selama berlangsungnya acara olimpiade.

5. Membantu Pertumbuhan Anak

Tidak diragukan lagi bahwa madu dapat membantu pertumbuhan anak secara optimal. Madu mengandung cukup banyak zat besi (Fe) dan tembaga (Cu) sedang ASI atau susu sapi mengandung lebih sedikit dibandingkan madu. Asupan Fe dan Cu yang cukup akan membantu proses pembentukan sel darah merah dan hemoglobin.

bolehkah-anak

Waktu Tepat Pemberian Madu untuk Anak

Sebagian besar Ibu tak jarang sudah memberikan madu pada anak sejak dini bahkan beberapa semenjak lahir dengan alasan madu banyak manfaatnya untuk kesehatan ataupun madu sebagai pengganti gula. Namum saat ini, American Academy of Pediatrics (AAP) masih menganjurkan penundaan pemberian madu hingga usia anak diatas 1 tahun.

Madu untuk Bayi diatas usia 1 tahun
Sejak tahun 2008, banyak perubahan yang telah dibuat mengenai “aturan” kapan bayi dapat mengkonsumsi makanan tertentu. Namun berbeda dengan MADU, sampai saat ini sebagaimana dinyatakan dalam AAP Pediatric Nutrition Handbook “Bayi berusia kurang dari 12 bulan harus menghindari semua sumber madu”. Pernyataan tersebut cukup menjelaskan bahwa apa pun yang mengandung madu harus dihindari untuk anak di bawah usia 1 tahun. Segala macam bentuk madu tersebut meliputi ; madu murni, madu mentah, makanan mengandung madu (sereal, biskuit) dan makanan yang diolah dengan madu (dimasak atau dipanggang) .

baby-bee

Mengapa Madu ditunda?

Alasan menunda pemberian madu sampai anak berusia diatas setahun bukan karena kekhawatiran kemungkinan terjadinya alergi makanan atau tersedak pada anak, akan tetapi oleh karena adanya penyakit yang cukup serius yaitu Botulisme Bayi (Infant Botulisme). Meskipun kejadiannya jarang, tetapi Botulisme dapat berdampak hebat. Sebab dapat menyebabkan kelemahan/paralisis otot, termasuk otot pernafasan, sehingga si kecil mengalami gangguan pernafasan yang dapat berujung kepada kematian.

Botulisme bayi disebabkan oleh karena bayi menelan makanan yang terkontaminasi oleh spora Clostridium Botulinum. Spora tersebut menyebabkan tumbuhnya bakteri dalam usus bayi yang menghasilkan toksin Botulisme. Biasanya makanan yang terkontaminasi spora adalah makanan yang tidak diolah dengan baik atau makanan kaleng yang sudah kadaluarsa. Selain makanan yang terkontaminasi, ternyata Madu juga merupakan media yang baik untuk tumbuhnya spora C.Botulinum.

Akan tetapi mengapa konsumsi madu bisa berbahaya pada bayi, sedangkan pada anak yang lebih besar atau orang dewasa tidak? Jawabannya terletak pada kematangan saluran pencernaan. Bayi dibawah usia 1 tahun belum memiliki intensitas asam yang cukup dalam sistem pencernaan untuk menangkis racun Bakteri Clostrium Botulinum. Sehingga dapat mengakibatkan keracunan.

Tanda dan gejala Botulisme

– bayi : Gejala muncul sekitar 8 – 36 jam setelah si Kecil mengonsumsi madu.

– Konstipasi disertai dengan

– Wajah datar

– Gerak tidak aktif

– Reflek hisap lemah

– Kesulitan menelan

– Hipersalivasi

– Kelemahan otot

– Gangguan pernapasan

Diagnosis Botulisme :

Botulisme sering salah didiagnosis dengan penyakit polyradiculoneuropathy seperti Guillain-Barre, Myasthenia gravis, atau penyakit sistem saraf pusat lainnya. Namun berbeda dengan penyakit kelumpuhan saraf lainnya, Botulisme mempunyai manifestasi awal kelumpuhan kranial yang menonjol. Kelumpuhan otot akan menjalar ke bawah secara simetris hingga dapat mencapai otot pernapasan. Botulisme tidak diikuti dengan gangguan syaraf sensorik.

Diagnosis pasti bila toksin Botulisme ditemukan pada darah, tinja, bilasan lambung atau makanan yang telah dimakan. Dapat juga dilakukan kultur bakteri C Botulinum pada tinja, makanan atau luka.

Segera bawa si Kecil ke dokter bila :

– Terlihat lemas bahkan untuk mengangkat kepalanya pun tidak mampu

– Terlalu lemah untuk menangis atau mengisap

– Sulit buang air besar

– Tidak dapat menelan

– Terlihat sulit bernafas/sesak

Penanganan Botulisme :

Segera bawa si Kecil ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat

Jika si Kecil terdiagnosis keracunan botulisme, maka akan segera dilakukan beberapa tindakan, termasuk kuras lambung dan/atau pemberian antiracun sesuai indikasi

Dalam keadaan khusus, dapat diberikan Antitoksin intravena yang dapat menghalangi aktivitas toksin Botulisme. Hal ini dapat membantu meringankan gejala jika diberikan pada awal proses infeksi .

Antibiotik tidak terlalu membantu dalam kasus keracunan makanan oleh Botulisme, namun antibiotik dapat digunakan dalam pengelolaan luka Botulisme.

Pada kasus berat, kadang diperlukan mesin bantu napas pada anak

Pencegahan Botulisme : 

Sampai saat ini belum tersedia vakin untuk mencegah Botulisme sehingga The American Academy of Pediatrics ( AAP ) menganjurkan penundaan pemberian madu sampai usia anak diatas 1 tahun.

Jangan mengkonsumsi makanan kaleng yang sudah tidak baik atau kadaluarsa

Masak makanan sampai matang untuk menghancurkan racun Botulisme

Jangan memberi makanan yang sudah jatuh atau telah dimuntahkan anak kembali

Buang wadah berisi makanan yang sudah menggembung. Makanan tersebut kemungkinan dapat mengandung gas yang diproduksi oleh C Botulinum

Nah, melihat manfaatnya… Tidak salah jika kita memberikan madu pada anak kita yang sudah 1 tahun ke atas. Mudah-mudahan tulisan ini dapat berguna bagi anda.

busy-cartoon-bees-with-honey-thumb5284606

Note : Diolah dr berbagai sumber

THE AMAZING SPIDER-BOY #jagoan baru yang konyol

Sebenarnya filmnya sudah tidak beredar lagi di bioskop, tapi saya masih teringat2 dengan aksi the new spidey, Andrew Garfield. Jadi gapapa juga kan kalau saya me-review setau saya film yang pernah saya tonton bersama anak2 magang di kantor saya.

Review film versi 21 cineplex :

The Amazing Spider-Man bercerita mengenai Peter Parker (Andrew Garfield), seorang anak SMA biasa yang ditinggal orangtuanya saat masih kecil sehingga ia dirawat oleh pamannya, Ben (Martin Sheen), dan bibinya, May (Sally Field). Seperti remaja kebanyakan, Peter berusaha mencari tahu siapa ia sebenarnya dan bagaimana ia bisa menjadi seperti sekarang ini. Peter juga mencari cara untuk dapat bersama cinta pertamanya, Gwen Stacy (Emma Stone) dan bersama, mereka berjuang dengan cinta, komitmen dan rahasia-rahasia yang ada. Saat Peter menemukan tas misterius kepunyaan ayahnya, ia memulai sebbuah penyelidikan untuk dapat memahami hilangnya orang tua Peter – yang menuntunnya langsung ke Oscorp dan sebuah laboratorium yang dimiliki oleh Dr. Curt Connors (Rhys Ifans), ex-partner sang ayah. Ketika Spider-Man dihadapkan dengan alter-ego Dr. Connors, The Lizard, Peter harus menggunakan kekuatannya dan memulai jalan hidupnya sebagai seorang pahlawan.

Review versi saya (dgn bumbu lebay tentunya) :

Film ini menceritakan tentang awal mula seorang Peter PArker menjadi sosok Spiderman, or shloud i say : “Spiderboy”. Sebab ia bertransformasi form zero to SUPERHERO sejak ia remaja alias ABG Labil. Sebenarnya dalam film-film Spiderman sebelumnya yang dieprankan oleh Tobey MacGuire juga sudah diceritakan awal mulanya Peter Parker menjadi Spiderman, namun di film yang dieprankan oleh bintang muda, Andrew Garfield, diceritakan pula bagimana ayah dan ibunya menitipkannya untuk hidup bersama paman Ben dan bibi May. Ternyata, ayah Peter adalah seorang ilmuwan. Bagi anda penyuka komik Spiderman, tentu sudah tahu fakta itu. Namun kalau anda hanya nonton sekuelnya di bioskop atau dvd bajakan, latar belakang Peter semasa kecil masihlah gelap. Nah, di film ini semuanya agak  menjadi “terang”. Meskipun Andrew memerankan tokoh Spidey dengan karakter yang lebih “gelap/suram” (bahasa inggrisnya darker… mudah2an benar) dan lebih keras ketimbang Tobey, si Spidey Andrew, penuh dengan cinta.

Berbeda dengan Tobey Macguire sebagai Spidey yang sangat dewasa di usia muda, Andrew ini menurut saya cocok banget jadi Spidey ABG. Apalagi dalam film “THe Amazing Spiderman” ini, si Peter Parker dibuat sebagai pahlawan yang manusiawi banget dan kekinian. Meskipun ia punya kekuatan super power, namun Peter juga seorang manusia yang bisa terluka dan kalah dalam pertarungan.

layaknya ABG Amrik, meskipun kutu buku, Peter suka bermain skate board dan membawanya kemana-mana. Gayanya juga tidak seculun Tobey dalam Spidey sebelumnya. Sikap pahlawannya sudah mulai terlihat ketika ia belum bertransformasi menjadi Spiderman. Seperti ketika ia membela temannya sesama kutu buku yang sedang di bully.

Buat saya, ini versi Spidey yang paling masuk akal dan menggambarkan kalo Peter itu anak pintar. Buktinya ia menciptakan sendiri kunci kamar mekanis, ia juga bisa menguraikan rumus rahasia sang ayah, sampai membuat alat yang ditaruh di pergelangan tangannya yang bisa mengeluarkan jaring laba-laba sintesis. Detil semacam ini diperhatikan banget sama Marc Webb sang sutradara. Berbeda dengan Spidey besutan sutradara Sam Raimi dan Tobey Macguire. Kisah cinta yang dihadirkan Marc Webb-pun ceritanya sangat remaja banget.

Dalam film daur ulang Spiderman dengan bintang baru kali ini, diselipkan unsur humor yang membuat filmnya tidak terlalu tegang di tonton. Contohnya saja, adegan Peter yang sedang mengintai The Lizard di kanal bawah tanah, sempat-sempatnya Peter main game di hapenya. adegna yang lain, saat penonton sedang diajak untuk melihat Spiderman yang cool sedang duduk di atas gedung, tiba2 sang bibi menelpon untuk menyuruhnya membeli telur. kontan saja penonton tertawa dibuatnya. Belum lagi tas ransel yang selalu nyangkut di bahunya meskipun Peter sudah mengenakan kostum lengkap Spiderman. hal-hal tersebut, membuat Spidey terlihat sebagai “jagoan Konyol”.

Tapi dari semuanya, film The Amazing Spiderman ini memang “sesuatu” untuk ditonton. Tidak rugi rasanya membayar tiket bioskop (meskipun bisokop murahan dan pas jadwal nomad). Semoga saja, Andrew Garfield bisa sama suksesnya memerankan Spidey dengan pendahulunya, Tobey Macguire. Semoga!!!

Catatan Perjalanan dari Cirebon

Perjalanan ke kota udang Cirebon, saya awali dengan kurang nyaman lantaran melewati kawasan pantura yang jalnnya penuh lubang. Belum lagi iring-iringan truk dan bis antar kota yang saling berkejaran. saya bertanya-tanya dalam hati, berapa kali dalam setahun Pemda setempat membetulkan jalan yang berlubang ya?

Sampai di kota Cirebon, saya dan rombongan menginap di Hotel Sidodadi yang terletak di jalan Siliwangi. Hotelnya cukup sederhana. Namun yang membuat nyaman adalah kamarnya cukup terjaga. Sarapannya juga terbilang bisa diterima perut saya.

Perjalanan di kota Cirebon, saya mulai dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Sewaktu saya dan kawan-kawan berkunjung, suasana keraton sedang ramai menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kami diterima langsung oleh Gusti Sultan Sepuh XIV, P.R.A. Arief Natadiningrat, setelah sebelumnya beliau memimpin upacara Siraman Panjang Jimat. Ternyata, sang sultan pemimpin Keraton Kasepuhan Cirebon tersebut humoris juga ya…

Sebelum berkunjung ke Keraton Kasepuhan, sebenarnya saya sempat mendatangi Keraton Kanoman. Namun tidak ada yang bisa saya rekam disana. Kondisi keraton yang kurang terawat, membuat saya miris.

Perjalanan saya lanjutkan ke Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. sesampai disana, saya disambut oleh para pengemis dan penduduk setempat yang meminta sumbangan secara paksa. Perjalanan wisata sekaligus spiritual itu jadi tidak nyaman, lantaran saya menggerutu karena berkali-kali di palak sebelum memasuki kompleks sunan gunung jati.

Tujuan berikutnya adalah desa batik di daerah Trusmi, Cirebon. Di wilayah ini, sebagian besar penduduknya hidup dari batik. Ada yang menjadi pengrajin, ataupun pedagang batik. Motif batik mega mendung adalah corak khas desa ini. Toko-toko batik memenuhi kiri-kanan sepanjang wilayah Trusmi. Bagi para pecinta batik, Trusmi adalah surganya belanja. Seperti kedua teman saya, Memez dan Uky. Mereka “menggila” ketika melihat begitu banyaknya koleksi yang bisa miliki, dan memborong puluhan potong batik di sebuah toko batik paling besar di Trusmi.

Sebelum mengakhiri perjalanan untuk kembali pulang ke Jakarta, saya mengunjungi situs bersejarah Taman Gua Sunyaragi. Bekas Kaputren keraton Cirebon yang kini menjadi tempat wisata itu, sepi pengunjung. Mungkin karena saya datang di hari kerja ya… Tempat yang rentan rusak itu, justru dipakai oleh sekelompok ABG untuk nongkrong dan bermain di sore hari. Meski begitu, tempat yang penuh dengan unsur mistis itu, tak pelak membuat saya kagum akan kebesaran negeri ini.

 

Lovely Heart, Chussy…

Bila anda sekilas melihat foto tiga ekor kucing ini, sepertinya memang foto biasa. Seekor kucing sedang menyusui dua anaknya. Sebenarnya, anak sang kucing bernama Chussy itu hanya satu, yaitu anak kucing yang berbulu putih-kuning. Sedangkan anak kucing berbulu putih-kuning-hitam, bukanlah anaknya.

Perhatikanlah ukuran tubuh kedua anak kucing tersebut. Tidak sama besar bukan?! Itu karena anak kucing berwarna putih-kuning-hitam ditemukan Chussy sendirian di pinggir jalan. Chussy-pun membawa anak kucing itu pulang. Dengan tulus, Chussy merawat dan menyusui anak kucing yatim-piatu itu.

Subhanallah, Kucing saja bisa punya hati nurani yang tulus dan kasih sayang pada sesama. Lantas, mengapa manusia yang sudah dibekali akal pikiran serta organ hati yang besar, masih saja ada seorang ibu yang tega mau menjual anaknya. Istighfar yuk aaah… Astaghfirullah haladzim!!!

Melukis Bersama Victoria & Autistic Children

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku. Hingga saat ini kepastian mengenai autisme belum juga terpecahkan. Padahal, perkembangan jumlah anak autis sekarang ini kian mengkhawatirkan. Di Amerika Serikat, perbandingan anak autis dengan yang normal 1:150, sementara di Inggris 1:100. Indonesia belum punya data akurat mengenai itu. (Sumber : Kompas Health)

Salah satu mitos tentang autisme yang paling menyedihkan adalah miskonsepsi bahwa anak dengan autisme tidak dapat memberi dan menerima afeksi dan kasih sayang. Stimulasi sensoris diproses secara berbeda oleh beberapa anak dengan autisme, menyebabkan mereka memiliki kesulitan dalam menunjukkan afeksi dalam cara yang konvensional. Memberi dan menerima kasih sayang dari seorang anak dengan autisme akan membutuhkan penerimaan untuk menerima dan memberi kasih sayang sesuai dengan konsep dan cara anak.

Anak dengan autisme pada dasarnya ingin berinteraksi secara sosial tetapi kurang mampu mengembangkan keterampilan interaksi sosial yang efektif. Mereka sering kali sangat peduli tetapi kurang mampu untuk menunjukkan tingkah laku sosial dan berempati secara spontan. Anak dengan autisme dapat mempelajari keterampilan bersosialisasi jika mereka menerima pelatihan yang dikhususkan untuk mereka. Keterampilan bersosialisasi pada anak dengan autisme tidak berkembang dengan sendirinya karena pengalaman hidup sehari-hari.

Anak dengan autisme tidak dapat sembuh. Meski demikian, banyak anak dengan simtom autisme yang ringan, seperti sindrom Asperger, dapat hidup mandiri dengan dukungan dan pendidikan yang tepat. Anak-anak lain dengan simtom yang lebih berat akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan, serta tidak dapat hidup mandiri sepenuhnya.

Untuk itu, diperlukan suatu diagnosis yang tepat dan benar untuk seorang anak dikatakan sebagai autisme. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, anak tersebut dapat melakukan suatu terapi. Anak dengan autisme dapat dibantu dengan memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Memang tidak ada terapi khusus yang efektif untuk menyembuhkan anak autis. Tetapi, dengan memahami karakteristik dan menggali potensi yang dimiliki, kesulitan anak autis bisa dikurangi dan potensinya bisa dikembangkan agar mereka dapat hidup lebih mandiri.
Memiliki anak autis tidak selamanya berarti dunia seakan runtuh. Pandangan ini antara lain karena sebagian besar orangtua dengan anak autis terlalu menfokuskan perhatian mereka pada kelemahan yang dimiliki anak, akibatnya, potensi tidak tergali secara maksimal.

Sebagian orangtua juga sering terlambat mendeteksi kekurangan anak karena hanya mengandalkan pusat-pusat terapi untuk mengatasi masalah yang dialami, dan kurang menggali alternative pengembangan individual dan pengembangan potensi. Padahal jika deteksi dini dilakukan, stimulasi bisa segera diberikan untuk mengatasi kekurangan sekaligus untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, maka hasilnya akan lain. Nyatanya, dengan penanganan sedini mungkin, tidak sedikit individu dengan autism berhasil mengatasi masalah dan mengembangkan bakatnya.

ART THERAPY
Salah satu terapi pelengkap untuk mengembangkan potensi pada anak autis yang saat ini mulai popular di Indonesia adalah art therapy (terapi seni), yaitu terapi atau latihan pendisiplinan diri melalui media kesenian, yaitu menggambar, melukis, membuat patung dari tanah liat atau berlatih music. Termasuk dalam kategori art therapy adalah melihat dan mempelajari obyek lukisan dan foto (visual tools).

Terapi seni dapat menolong pasien penderita autism sesuai karakteristik setiap anak, seperti membantu meningkatkan kecakapan komunikasi, mengembangkan perasaan dan emosi, membantu mengembangkan hubungan social serta melatih respon inderawi. Ini dimungkinkan karena anak-anak autis bukan tanpa potensi, mereka memiliki bakat dan kecakapan akademis yang bisa dikembangkan. (http://www.autisme-society.org)

Di luar potensi umum yang dimiliki, beberapa anak autis memiliki kecakapan atau kecenderungan khusus misalnya pada bidang numerical (angka), lainnya memiliki kecenderungan atau potensi auditif (pendengaran), ada juga yang memiliki potensi di bidang visual (penglihatan) dan taktil (sentuhan).
Dengan memahami karakteristik dan potensi tersebut, seorang terapis terbantu dalam memperbaiki gangguan kesulitan yang dialami dan dapat menggali potensi yang terpendam. Itulah mengapa terapi seni, baik melukis atau latihan vocal, dapat dimasukkan sebagai bagian ari stimulasi untuk melengkapi (adjuvant) terapi lain.

Setidaknya ada tiga manfaat art therapy bagi anak autis, yaitu;

1. Meningkatkan Keterampilan Berkomunikasi
Art Therapy dapat membantu menstimulasi bagian otak yang tidak berkembang dan membantu anak autis dalam mengekspresikan kecakapan non verbal. Saat anak autis sedang melukis atau menggambar misalnya, sesungguhnya dia sedang berkomunikasi dengan menggunakan symbol. Proses ini dapat membantu mengembangkan kecakapan komunikasinya secara langsung, serta membantu dalam mengelola proses berpikir.

Secara bersamaan, sang terapis juga dapat lebih focus dalam mengeksplorasi kecakapan berkomunikasi anak dengan memanfaatkan beberapa teknik tertentu, seperti memberi tugas menggambar dengan mencontoh atau melukis sesuai arahan terapis. Anak dengan autisme akan merespon tugas yang diberikan terapis lewat perubahan sikap dan karya lukisannya. Metode ini juga dapat melatih anak untuk lebih focus dan dapat terlibat secara langsung dalam proses interaksi dengan orang lain.

Saat terapis membangun hubungan dengan pasien autis itulah pasien mulai mengembangkan kemampuan menyimpan dan menambah pengalaman barunya. Itulah cara kerja dan proses komunikasi dalam terapi seni, yaitu dengan menciptakan suasana positif yang sangat baik dan menyehatkan. Cara ini juga bermanfaat untuk mengurangi kecemasan dan membantu memperbaiki perkembangan emosi anak autis.

Anak autis juga cenderung lebih mudah diarahkan oleh terapis yang bisa menciptakan rasa aman dan nyaman serta bisa menjalin hubungan sesuai karakteristik setiap anak. Jika anak autis dapat merasakan pengalaman yang nyaman selama proses terapi berjalan, maka ia akan mudah diarahkan.

2. Mengembangkan Perasaan Anak Autis
Art therapy juga bermanfaat untuk membantu mengembangkan perasaan dan emosi anak autis. Karena anak autis tidak memiliki emosi dan perasaan yang stabil, lewat melukis atau menggambar, terapis dapat melatih cara mengekspresikan perasaan lewat kegiatan menggambar atau melukis. Latihan ini juga berguna untuk melatih daya tahan atau keuletan dan kesabaran pasien dalam menyelesaikan suatu tugas seni selain membantu memperbaiki ekspresi dan perasaannya.

3. Melatih Koordinasi Sistem Saraf
Koordinasi system saraf pada anak autis adalah salah satu aspek penting. Penggunaan metode multi sensory dapat membantu mengintergrasikan atau mengkoorinasikan perasaan anak autis, seperti mendengar dan menyentuh. Misalnya, dengan memainkan tangga nadan dengan alat-alat music, atau berlatih menyanyi secara periodic pada sesi terapi yang berbeda.
Meskipun memiliki kesulitan-kesulitan sesuai dengan karakteristik individual anak, anak autis juga dapat mengembangkan keterampilan komunikasi dan kepekaan sensorik mereka selama proses terapi berlangsung.
Sesuai dengan keunikan dan karakteristik masing-masing, anak-anak autis juga dapat melakukan interaksi yang positif dengan terapis selama terapi berlangsung. Lewat mekanisme ini, seiring dengan pertumbuhan pola piker dan sikap emosionalnya, sikap negative anak autis pun akan berkurang. (Sumber : http://www.sweetpearls.com)

Mengetahui fakta-fakta di atas, seorang pelukis asal Rusia, Victoria Renaux Abdoulaeva merasa tergerak untuk melatih melukis anak-anak autis. Dibantu oleh perkumpulan suku batak di Jakarta, Darapati, Victoria mengumpulkan 140 orang anak autis untuk melakukan sesi melukis bersama. Setiap sesinya, Victoria mengajak 5 orang anak. Sehari 2 sesi melukis selama 14 hari, dilakoni Victoria, mulai dari tanggal 2 – 15 Maret 2012 di Galeri Nasional, Jakarta.

Dengan bermodal kanvas dan cat arcrilic, Victoria menemani dan membimbing anak-anak berkebutuhan khusus tersebut melukis. Anak-anak, diberi kebebasan melukis apapun yang mereka mau. Kebanyakan dari mereka hanya melukiskan campuran warna-warna abstrak saja. Hebatnya, Victoria mengerti arti lukisan anak-anak autis tersebut. Victoria pun bisa memberikan informasi kepada orang tua, apakah anak mereka punya bakat seni, apa yang dibutuhkan oleh sang anak, ataupun perasaan yang sedang dirasakan oleh sang anak. Menurut Victoria, “Happiness is the best medicine for autistic children.”

Victoria memang bukan kali ini saja melibatkan anak-anak dalam dunia lukisnya, anak-anak normal, maupun anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis dan down sindrom. Kepeduliannya terhadap anak-anak, membuat pelukis yang pernah 5 tahun tinggal di Bali serta 3 tahun di tanah batak ini, ingin memberikan kebahagiaan pada anak-anak, terutama anak-anak autis. Menurutnya, anak-anak memberinya inspirasi dan energi yang besar bagi lukisannya. Selain menggelar sesi melukis bagi anak-anak autis, Victoria juga menggelar pameran lukisannya di Galeri Nasional.

 

 

Balada Bocah Pengamen

Sepulang bertugas dari Wisma Nusantara minggu pagi itu, saya naik metromini jurusan tanah abang – pasar minggu. Di lampu merah pancoran, naiklah dua bocah kecil yang hendak ngamen di bis yang saya naiki. Sang kakak kira2 berumur 5tahun, sedang adiknya saya rasa belum genap 2tahun. Dengan kaki kecilnya, sang adik berusaha berdiri tegak di dalam bis kota yang sedang berjalan pelan. Sedang kakaknya asyik bernyanyi sambil sesekali memegangi sang adik.

Melihat pemandang tersebut, kontan saja penumpang ibu-ibu yang ada di bis langsung terenyuh dan mengeluarkan uang masing-masing seribu rupiah untuk dua bocah tersebut. Setelah ngamen, dua bocah itupun turun dari bis sambil terhuyung. Wajah sang kakak terlihat bangga lantaran dapat hasil yang lumayan. Namun asal anda tahu saja, uang yang mereka dapat belum tentu dapat mereka nikmati. Pasalnya, mereka harus menyetorkan uang tersebut pada orang tua ataupun koordinator mereka.

Betapa nista orang tua maupun koordinator yang membiarkan bocah sekecil itu mencari nafkah untuk mereka. Bocah yang seharusnya punya banyak waktu bermain dan berkembang, justru harus menanggung beban hidup orang tuanya. Inilah salah satu gambaran miris ibukota Jakarta… *geleng2*

Previous Older Entries