Balada Bocah Pengamen

Sepulang bertugas dari Wisma Nusantara minggu pagi itu, saya naik metromini jurusan tanah abang – pasar minggu. Di lampu merah pancoran, naiklah dua bocah kecil yang hendak ngamen di bis yang saya naiki. Sang kakak kira2 berumur 5tahun, sedang adiknya saya rasa belum genap 2tahun. Dengan kaki kecilnya, sang adik berusaha berdiri tegak di dalam bis kota yang sedang berjalan pelan. Sedang kakaknya asyik bernyanyi sambil sesekali memegangi sang adik.

Melihat pemandang tersebut, kontan saja penumpang ibu-ibu yang ada di bis langsung terenyuh dan mengeluarkan uang masing-masing seribu rupiah untuk dua bocah tersebut. Setelah ngamen, dua bocah itupun turun dari bis sambil terhuyung. Wajah sang kakak terlihat bangga lantaran dapat hasil yang lumayan. Namun asal anda tahu saja, uang yang mereka dapat belum tentu dapat mereka nikmati. Pasalnya, mereka harus menyetorkan uang tersebut pada orang tua ataupun koordinator mereka.

Betapa nista orang tua maupun koordinator yang membiarkan bocah sekecil itu mencari nafkah untuk mereka. Bocah yang seharusnya punya banyak waktu bermain dan berkembang, justru harus menanggung beban hidup orang tuanya. Inilah salah satu gambaran miris ibukota Jakarta… *geleng2*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: