Catatan Perjalanan dari Cirebon

Perjalanan ke kota udang Cirebon, saya awali dengan kurang nyaman lantaran melewati kawasan pantura yang jalnnya penuh lubang. Belum lagi iring-iringan truk dan bis antar kota yang saling berkejaran. saya bertanya-tanya dalam hati, berapa kali dalam setahun Pemda setempat membetulkan jalan yang berlubang ya?

Sampai di kota Cirebon, saya dan rombongan menginap di Hotel Sidodadi yang terletak di jalan Siliwangi. Hotelnya cukup sederhana. Namun yang membuat nyaman adalah kamarnya cukup terjaga. Sarapannya juga terbilang bisa diterima perut saya.

Perjalanan di kota Cirebon, saya mulai dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Sewaktu saya dan kawan-kawan berkunjung, suasana keraton sedang ramai menjelang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kami diterima langsung oleh Gusti Sultan Sepuh XIV, P.R.A. Arief Natadiningrat, setelah sebelumnya beliau memimpin upacara Siraman Panjang Jimat. Ternyata, sang sultan pemimpin Keraton Kasepuhan Cirebon tersebut humoris juga ya…

Sebelum berkunjung ke Keraton Kasepuhan, sebenarnya saya sempat mendatangi Keraton Kanoman. Namun tidak ada yang bisa saya rekam disana. Kondisi keraton yang kurang terawat, membuat saya miris.

Perjalanan saya lanjutkan ke Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. sesampai disana, saya disambut oleh para pengemis dan penduduk setempat yang meminta sumbangan secara paksa. Perjalanan wisata sekaligus spiritual itu jadi tidak nyaman, lantaran saya menggerutu karena berkali-kali di palak sebelum memasuki kompleks sunan gunung jati.

Tujuan berikutnya adalah desa batik di daerah Trusmi, Cirebon. Di wilayah ini, sebagian besar penduduknya hidup dari batik. Ada yang menjadi pengrajin, ataupun pedagang batik. Motif batik mega mendung adalah corak khas desa ini. Toko-toko batik memenuhi kiri-kanan sepanjang wilayah Trusmi. Bagi para pecinta batik, Trusmi adalah surganya belanja. Seperti kedua teman saya, Memez dan Uky. Mereka “menggila” ketika melihat begitu banyaknya koleksi yang bisa miliki, dan memborong puluhan potong batik di sebuah toko batik paling besar di Trusmi.

Sebelum mengakhiri perjalanan untuk kembali pulang ke Jakarta, saya mengunjungi situs bersejarah Taman Gua Sunyaragi. Bekas Kaputren keraton Cirebon yang kini menjadi tempat wisata itu, sepi pengunjung. Mungkin karena saya datang di hari kerja ya… Tempat yang rentan rusak itu, justru dipakai oleh sekelompok ABG untuk nongkrong dan bermain di sore hari. Meski begitu, tempat yang penuh dengan unsur mistis itu, tak pelak membuat saya kagum akan kebesaran negeri ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: