SAAT SANG “PRINCESS” MULAI BERSOSIALISASI

IMG02770-20140817-0945

Adiva Mallory & Baim nonton lomba 17an

Sebagai ibu yang bekerja, aku berusaha selalu menyempatkan waktu buat putri kecilku, Adiva, terutama saat berada di rumah. Sejak 0 bulan, anakku sudah mengenal sepupu2nya yang lebih besar, jadi bermain bersama teman bukanlah barang baru buatnya. Namun, bermain bersama teman yang bukan anggota keluarga, adalah hal baru buat princess kecilku.

Momen perayaan 17 Agustus, merupakan pengalamannya bertemu dengan orang banyak. Diva yang saat itu masih 16 bulan namun sudah lancar berjalan, tertarik pada seorang anak laki-laki berusia 4 tahun bernama Baim. Dimulai dari mengamati, akhirnya Diva mendekati Baim, mencolek hingga memegang topinya. Namun, Baim cuek, hanya menengok sebentar, kemudian asyik lagi menonton jalannya lomba 17an. Saking penasarannya, anakku jongkok disamping Baim yang tidak juga mau memperhatikannya. Momen itu adalah momen yang lucu sekaligus mengagumkan buatku.

picmix-15112014-612

Adiva mulai bermain bersama teman di usia 20 bulan

Di usianya ke-20 bulan, Diva sdh bisa mengajak temannya bermain. Namanya Dea, dia anak tetanggaku. Umurnya 3 tahunan. Yang membuatku kagum dan bangga adalah, Diva tidak berebut mainan dengan Dea. Diva justru asyik membantu Dea yang sedang asyik menyusun balok mainan milik Diva. Itu adalah sekelumit kisah anakku yang mulai bersosialisasi dengan orang lain. Apakah anak anda juga seperti Diva? Berikut artikel yang saya rangkum dari beberapa sumber.

Mulai usia berapa sih sebenarnya anak mulai bersosialisasi?

Sampai usia sekitar 8 bulanan si kecil sibuk untuk terus melihat dunianya, namun responnya hanya sekedar melalui pandangannya yang lucu, senyumnya yang imut, keinginannya untuk meraih barang-barang di sekitarnya, serta ocehan-ocehan lucunya. Di usia ini juga, si kecil bisa bermain bersama-sama dengan bayi yang lain, namun terbatas dengan kemampuan di atas. Si kecil belum bisa berinteraksi, belum bisa memahami sampai tahapan berkomunikasi satu dengan yang lain. Namun, biasanya di akhir usianya satu tahun si kecil mengalami sifat anti sosial. Tidak mau ditinggal sendiri, dan mengekspresikan dengan tangisannya yang keras, namun kembali tenang jika ibu sudah ada di dekatnya.

Lalu pada Tahun kedua si kecil. Seiring dengan kemampuan berdiri dan berjalannya, si kecil akan semakin aktif dan tertarik dengan segala sesuatu di sekitarnya. Disertai dengan kemampuannya belajar berbicara, si kecil mulai suka bersosialisasi. Bermain dengan teman-teman sebayanya, atau mengikuti gerombolan anak-anak lainnya di sekitar lingkungannya. Namun, diusia ini juga keegoisan si kecil mulai muncul, si kecil mulai sadar tentang barang yang dimilikinya. Si kecilpun tak ingin berbagi dan ingin semua dimilikinya. Ini merupakan tahapan normal, arahkan saja perkembangannya dengan baik, tunjukkan kehidupan berbagi dan coba terus mengarahkan ke arah positif.

Anak usia 3-4 tahun masih tetap suka bermain sendiri. Tetapi dia memilih lokasi yg masih berdekatan dengan anak lain, dalam tahap ini mereka akan semakin mendekati bentuk permainanyang memerlukan kerjasama, bahkan meskipun mereka memiliki sifat yg egosentris tetapi di masa ini seorang anak sudah mulai menginginkan mainan milik temannya sehingga secara tidak langsung mereka saling mendekati dan ingin main bersama.

Pada periode ini dimana terjadi perubahan yang cepat untuk kebanyakan anak. Mereka sibuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru meraih tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Anak-anak dalam masa ini belajar untuk mengendalikan dan mengarahkan perasaannya. Secara social, mereka sudah mampu untuk diajak bekerjasama dan menyesuaikan diri dengan orang dewasa, contohnya ketika mereka bermain bersama dalam kelompok mereka mampu memahami peraturan dengan lebih baik, bahkan terkadang menuntut teman lain untuk mematuhi peraturan tersebut.

Guru dan orang tua harusnya menyadari perasaan emosi mereka dan harus sensitif terhadap ungkapan anak-anak tersebut. Suatu hal yang sulit anak-anak ini adalah untuk menyesuaikan diri dengan langkah mereka sendiri. Contoh mereka akan berusaha keras untuk melakukan banyak hal sendirian, dan perkembangan anak juga bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya dan terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.

Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya. Selain itu Ada baiknya sejak dini orang tua mengagendakan kesempatan bagi si kecil bersosialisasi. Dengan demikian bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak sehingga membuatnya takut.

Biasanya untuk batita (0 – 3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usiabalita (3 – 5 tahun), tak ada salahnya Anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat Anda di rumah atau di rumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam play date. Bisa juga Anda jadwalkan membawa anak di hari tertentu ke playground atau bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak bersosialisasi semakin sering.

Umur Berapa Balita Mulai Senang Bergaul?

Menurut pakar perkembangan bayi dan balita Victoria J Youcha, balita mulai senang bersosialisasi dengan teman-teman balitanya ketika sudah mencapai usia 2 tahun.

Meski pada usia tersebut anak belum memahami dasar-dasar persahabatan dan kerjasama seperti mendengarkan, menanggapi, bergantian atau saling berbagi, tapi ia akan menikmati bermain berdampingan dengan anak lain, menonton serta meniru yang anak lain lakukan atau katakan.

Perilaku ini disebut dengan bermain asosiatif dan merupakan cara yang hebat bagi anak untuk belajar dari anak-anak lain. Umumnya anak akan belajar keterampilan sosial dari satu sama lain serta membangun kreativitasnya sendiri. Sedangkan konflik yang terjadi antar anak merupakan langkah pertama bagi anak dalam belajar untuk bekerjasama serta berbagi.

Lalu saat anak menginjak usia 3 tahun, ia mungkin sudah memiliki satu atau dua teman spesial seperti teman untuk saling berbagi dan bermain selama 1-2 jam tanpa saling berkelahi.

Menurut Victoria, ketika masih di bawah 12 bulan umumnya anak lebih asyik bermain sendiri dan tidak menghiraukan teman-teman disekelilingnya.

“Meski begitu pada usia sebelum 12 bulan bayi mulai terpesona dengan bayi lainnya, mereka akan mengeksplorasi satu sama lain seperti halnya saat mereka mengeksplorasi mainan,” ujar Victoria.

Eksplorasi yang dilakukan oleh para bayi ini bisa menghibur atau justru mengesalkan orangtuanya, karena cara eksplorasi ini cenderung disertai dengan tangisan air mata dan juga jeritan gembira anak-anak saat bermain.

Setelah itu ketika usianya masuk antara 1-2 tahun, balita akan terlibat sesuatu hal yang dikenal sebagai ‘bermain paralel’, yaitu cara bermain yang mana anak-anak duduk bermain berdampingan dengan anak lain tapi tidak benar-benar berinteraksi, selain untuk mengambil mainan.

4 Kiat Mengasah Sosialisasi Anak

Keterampilan bersosialisasi mesti diasah lewat contoh orang tua yang pandai gaul. Tipe seperti apa pun anak usia 3 – 5 tahun Anda, ada baiknya Anda memberi ‘modal’, khususnya bagi yang akan masuk TK. Apa saja itu?

1. Hangat dan penuh cinta.
Cara anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar sangat bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.

Orang tua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orang tua, sebaiknya Anda menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya.

2. Petunjuk praktis.
Sebagai pemula, anak-anak butuh  arahan Anda tentang cara memulai pertemanan. Beri petunjuk praktis tentang cara menyapa orang lain, memberi respon positif terhadap sapaan teman dan cara berinteraksi dalam kegiatan bermain bersama. Cara termudah, tentu saja, dengan memberi contoh.

Di usia berapa pun, ada baiknya Anda paparkan contoh tata krama dan perilaku yang mendukung kegiatan bersosialiasi dengan orang-orang di sekitarnya. Salah satu keterampilan sosial yang juga penting diajarkan adalah cara memecahkan masalah, misalnya dengan bernegosiasi, dan berkompromi.

3. Biasakan bergaul.
Ada baiknya sejak dini Anda mengagendakan kesempatan bagi si kecil bersosialisasi. Dengan demikian bersosialisasi tak lagi barang baru bagi anak sehingga membuatnya takut.

Biasanya untuk batita (0 – 3 tahun) cukuplah dengan teman seusia di sekitar lingkungan rumah atau sepupunya. Di usia balita (3 – 5 tahun), tak ada salahnya Anda rutin mengajaknya bermain bersama anak sahabat Anda di rumah atau di rumah sahabat, misalnya dengan merancang semacam play date.

Bisa juga Anda jadwalkan membawa anak di hari tertentu ke playground atau bermain dengan anak seusianya di sekitar rumah. Berbagai pengalaman positif berinteraksi dengan anak-anak seusianya mendorong anak bersosialisasi semakin sering

4. Mengundang teman.
Maksimalkan interaksi positif anak dan teman-temannya saat bermain bersama di rumah, antara lain dengan menyediakan beragam material dan kegiatan. Apabila anak memiliki gagasan baru dan materialnya belum tersedia, Anda dapat membelinya terlebih dulu.

Ajak anak menyusun kegiatan yang dapat dilakukan bersama teman yang akan diundang. Buatlah daftar mainan dan material yang tersedia lalu susunlah kegiatan yang mungkin lakukan si balita bersama temannya

Sebagai langkah awal, rancanglah kegiatan bermain yang singkat saja. Meski pengalaman pertama bermain bersama teman di rumah menyenangkan, tetap saja balita punya ketahanan terbatas. Selain karena bosan, anak-anak biasanya juga tak akan tahan bermain lebih dari 1 jam nonstop. Ia butuh jeda untuk istirahat, makan, minum bahkan tidur di sore hari.

Bagaimana Balita Bersosialisasi Dengan Teman ?

Saat balita Anda mulai mengenal dunia luar, mungkin ia akan mulai menemukan asiknya bersosialisasi dengan teman sebayanya. Berbagai pengalaman baru akan ditemukan. Dalam adaptasinya, ia biasanya akan memilih teman-teman yang disukainya.

Setiap balita memiliki kemampuan yang berbeda dalam beradaptasi. Ada yang mudah, dan ada pula yang sulit. Menjadi tugas Anda sebagai orang tua adalah tetap mendukungnya untuk bisa beradaptasi dengan teman-teman barunya.

Saat usia si kecil baru mancapai satu atau dua tahun, biasanya si kecil masih nyaman dengan mainannya sendiri. Ia pun masih memilih untuk bermain dengan orang-orang dewasa yang biasa ada disekelilingnya, seperti orang tua, kakek, nenek, kakak, atau pengasuhnya.

Di usia tersebut, balita menganggap bermain dengan orang dewasa lebih menyenangkan karena mereka selalu menuruti apa yang diinginkannya. Tak heran saat balita bertemu dengan teman sebayanya biasanya akan sering bertengkar karena mereka masih sama-sama tidak mau mengalah.

Itulah kenapa balita sangat membutuhkan Anda saat ia mulai bersosialisasi dengan teman sebayanya. Anda bisa memulainya dengan memperkenalkan balita lain pada anak Anda. Ajarkan ia bagaimana menyapa teman sebayanya itu dan biarkan mereka bermain bersama.

Saat usianya mulai beranjak, balita Anda akan mulai mengamati anak-anak lainnya. Saat usianya dua atau tiga tahun, ia akan mencari sosok teman yang disukainya. Ia akan mulai mendekati teman yang disukainya tersebut. Namun pada usia ini balita masih cenderung takut dan malu.

Sebagai orang tua, Anda bisa lebih sering mengajak anak untuk bermain ke tempat-tempat yang banyak balita-balita seusianya. Biarkan ia mendekati balita lainnya. Pada awalnya, mungkin ia hanya akan menjadi penonton saja, tapi jika ia sudah terbiasa, ia pun akan mulai bermain dengan balita lainnya.

Semakin besar, balita Anda akan semakin percaya diri. Saat usianya tiga atau empat tahun, teman-temannya akan semakin banyak dan ia pun akan mulai terbiasa dengan balita-balita lain di sekitarnya. Biarkan balita Anda memiliki waktu bermain lebih banyak dengan teman-temannya.

Saat itu, balita Anda akan menyadari bermain dengan teman akan lebih menyenangkan dibanding bermain sendiri. Menginjak usia empat atau lima tahun, biasanya ia dan teman-temannya akan membentuk gank sendiri. Mereka pun mulai bisa berdebat pendapat yang satu dengan lainnya.

Bersosialisasi dengan teman akan menjadi saat-saat yang menyenangkan bagi balita Anda. Tetaplah dampingi balita Anda dan ajarkan hal-hal baru untuk memperkaya wawasannya dalam bersosialisasi. Sesekali ajaklah balita Anda ke tempat balita lainnya untuk memperluas lingkungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: